Tampilkan postingan dengan label Cerita Wali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Wali. Tampilkan semua postingan

Karomah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari


Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah seorang ulama besar fiqih bermazhab Syafi'i  dari Martapura, Kalimantan Selatan yang namanya dikenal luas di seantero nusantara pada akhir abad 18. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari lahir di Lok Gabang, Martapura 17 Maret 1710. Dia diyakini  adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao, Filipina.

Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Muhammad Arsyad bergaul dan bermain dengan teman-temannya.
Namun pada diri Muhammad Arsyad sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya.

Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan. Di antara kepandaiannya adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau.

Pada saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun.

Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.

Di istana, Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang.

Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.

Dia mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian  dinikahkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut.

Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, Muhammad Arsyad berkeinginan untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru dia adalah Syekh Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.

Selain itu guru-guru Muhammad Arsyad yang lain seperti Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im ad Damanhuri, Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az Zabidi, Syekh Hasan bin Ahmad al Yamani, Syekh Salm bin Abdullah al Basri, Syekh Shiddiq bin Umar Khan, Syekh Abdullah bin Hijazi asy Syarqawy, Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz al Maghrabi, Syekh Abdurrahamn bin Sulaiman al Ahdal, Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin al Fathani, Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syekh Abis as Sandi, Syekh Abdul Wahab at Thantawy, Syekh Abdullah Mirghani, Syekh Muhammad bin Ahmad al Jauhari, dan Syekh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh.

Selama menuntut ilmu, Syekh Muhammad Arsyad menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syekh Abdussamad al-Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri al-Jawi, dan Syekh Abdul Wahab Bugis sehingga mereka dikenal sebagai Empat Serangkai dari Tanah Jawi.

Lalu pulanglah Syekh Muhammad Arsyad ke kampung halamannya, Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah.

Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.

Sultan Tahmidullah II mengangkatnya sebagai mufti, bahkan sultan pun termasuk salah seorang muridnya.
Syekh Muhammad Arsyad adalah pelopor pengajaran hukum Islam di Kalimantan Selatan.

Ulama-ulama yang dikemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar.

Salah satu cerita mengenai karomah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang dikenal dengan nama Tuanta Salamaka atau Datuk Kalampayan ini terjadi saat dia berangkat ke Batavia untuk membetulkan arah kiblat.

Arsyad membetulkan arah kiblat di Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang dan Pekojan, hal ini menimbulkan kontroversi di kalangan pemuka mesyarakat dan pemimpin muslim saat itu.

Karenanya Gubernur Jenderal Belanda kala itu memanggil Arsyad, sekaligus untuk mempermalukannya di depan umum dengan salah satu pertanyaannya apakah isi kelapa yang sedang dipegang sang gubernur.

Syekh Arsyad menjawab isi kelapa itu air dan di dalam air itu ada ikan, lalu hadirin tertawa mendengar jawaban yang tidak masuk akal itu.

Akan tetapi, setelah kelapa itu dibelah, memancarlah air dan keluarlah ikan yang masih hidup dari dalamnya, hadirin yang tertawa berubah menjadi takjub dan kagum melihat karomah yang dimiliki Syekh Arsyad.

Sumber:
- islam-alfaqir
- wikipedia dan diolah dari berbagai sumber

JANGAN TUDUH ULAMA BERSALAH MESKIPUN DIPENJARA ATAU DIBUNUH


IMAM SYAFI'IE
Tangan dan kakinya dirantai lalu dibawa menghadap pemerintah dan hampir-hampir dipancung karena dituduh Syiah dan pemecah-belah masyarakat.
IMAM HANAFI
Ditangkap, dipenjara, dicambuk, disiksa dan dipaksa minum racun oleh pemerintah lalu meninggal dunia karena tidak setuju dengan dasar-dasar pemerintah.
IMAM MALIKI
Dicambuk dengan cemeti lebih kurang 70 kali sepanjang hayatnya oleh pemerintah kerana sering mengeluarkan kenyataan yang bertentangan dengan kehendak pemerintah.
IMAM HAMBALI
Dipenjara oleh pemerintah dan dirotan belakangnya hingga hampir terlucut kainnya kerana mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan kehendak pemerintah. Pemerintah menganggap mereka lebih betul daripada ulama.
SUFYAN AT TSAURI
Seorang wali Allah yang termasyhur. Ditangkap tanpa bicara karena berani menegur kesalahan khalifah dan dihukum gantung tetapi sewaktu hukuman hendak dijalankan kilat dan petir menyambar pemerintah dan menteri-menterinya lalu mereka mati tertimbun tanah.
SAID BIN JUBAIR
Seorang wali Allah yang dikasihi harimau. Dibunuh karena didakwa memecah-belahkan masyarakat, menentang kerajaan dan berkomplot untuk menjatuhkan pemerintah.
*ABU YAZID AL-BUSTAMI*
Wali Allah yang terkenal dengan pelbagai karamah. Dituduh sesat karena ilmu agamanya lebih tinggi daripada pemerintah. Dihukum pancung oleh pemerintah tetapi tiada siapapun berhasil memancungnya.
ABUL HUSIN AN-NURI
Wali Allah yang mampu menundukkan api. Ditangkap dan hampir dihukum karena dia menentang tindakan pemerintah yang membenarkan minuman arak berleluasa dalam negara.
IMAM NAWAWI
Hampir-hampir dipukul dan telah dibuang negara oleh pemerintah karena menegur tindakan pemerintah menyalahgunakan uang rakyat. Juga seorang wali Allah yang terkenal sepanjang zaman.
Subhanallah Allahu Akbar La haula wala quwwata illa billah....
قل الحق ولو كان مرا
Katakanlah yang haq walaupun pahit
Semoga kita diberikan keistiqomahan dalam menegakkan yang haq, dan senantiasa mampu mengikuti ulama ulama yang istiqomah dalam berjuang Aamiin...
Ulama Warosatul Anbiya'

EMPAT WALI QUTUB



Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Beliau pernah berkata “Kakiku ada diatas kepala seluruh wali.” Menurut Abdul Rahman Jami dalam kitabnya yang berjudul Nafahat Al-Uns, bahwa beberapa wali terkemuka diberbagai abad sungguh-sungguh meletakkan kepala mereka dibawah kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Syaikh Ahmad al-Rifa’i
Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata :
“Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Quthub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu daripada Quthubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghaus!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghausiyah”.
Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Syaikh Ahmad al-Rifa’i telah melampaui “Maqamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).
Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, “Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, “Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana ya kanjeng syaikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab, “Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah.

Syaikh Ahmad Badawi
Setiap hari, dari pagi hingga sore, beliau menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat.
Pada usia dini beliau telah hafal al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan syaikh Ahmad Rifai. Suatu hari, ketika beliau telah sampai ketingkatannya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, menawarkan kepadanya: ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masyriq atau Maghrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Syaikh Ahmad Rifai, dengan lembut, dan karna menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari al-Fattah (Allah )”.
Peninggalan syaikh Ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan shalawat badawiyah sughro dan shalawat badawiyah kubro.

Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.
Di antara keramatnya para Shiddiqin ialah :
1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).
2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).
3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.
Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :
1. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt.
2. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
3. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
4. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.

Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya. Kemudian beliau menjawab, “Guruku adalah Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Usman bin ‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh yang agung. Beliau pernah berkata, “Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat”. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap malam banyak membaca Radiyallahu ‘an Asy-Syekh Abul Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah swt apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku”. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, “Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syaikh Abu Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah swt, apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi saw menjawab, “Abu Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawassul kepada Abu Hasan, maka berarti dia sama saja bertawassul kepadaku”.

Peninggalan syaikh Abu Hasan asy-Syazili yang sangat utama, yaitu Hizib Nashr dan Hizib Bahar. Orang yang mengamalkan Hizib Bahar dengan istiqomah, akan mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Hizib Bahar ditulis syaikh Abu Hasan asy-Syazili di Laut Merah (Laut Qulzum). Di laut yang membelah Asia dan Afrika itu syaikh Abu Hasan asy-Syazili pernah berlayar menumpang perahu. Di tengah laut tidak angin bertiup, sehingga perahu tidak bisa berlayar selama beberapa hari. Dan, beberapa saat kemudian Syaikh al-Syadzili melihat Rasulullah. Beliau datang membawa kabar gembira. Lalu, menuntun syaikh Abu Hasan asy-Syazili melafazkan doa-doa. Usai syaikh Abu Hasan asy-Syazili membaca doa, angin bertiup dan kapal kembali berlayar.
[7/4 14.27] Abah Fauzan Arrafi: Imam Al-Ghazali ketika ditanya tentang Seorang Pembimbing Rohani, Guru Mursyid yang tidak lain adalah seorang Wali Allah, Beliau berkata, “Menemukan Guru Mursyid itu Lebih mudah menemukan sebatang jarum yang disembunyikan di padang pasir yang gelap gulita”. Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya menemukan sebatang jarum ditengah padang pasir di gelap gulita, dalam kondisi terang pun akan sulit menemukannya. Ungkapan Al-Ghazali yang digelar sebagai “Hujjatul Islam” tidaklah berlebihan, coba kita simak beberapa dalil berikut tentang Wali Allah :

Dalam hadits Qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”

Abu Yazid al Busthami mengatakan: “Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya“.

Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab: “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.

Asal usul Sunan Bonang


Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Putera Sunan Ampel dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila.
Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah puteri Prabu Kertabumi. Dengan demikian Raden Makdum adalah seorang Pangeran Majapahit karena ibunya adalah puteri Raja Majapahit dan ayahnya menantu Raja Majapahit.
Sebagai seorang wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se tanah jawa, tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Sejak kecil Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin.
Sudah bukan rahasia bahwa latihan atau riadha para wali itu lebih berat daripada orang awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon wali yang besar, maka Sunan Ampel sejak dini juga mempersiapkan sebaik mungkin.
Disebutkan dari berbagai literatur bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam ke tanah seberang yaitu negeri Pasai. Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri, juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai. Seperti ulama tasawuf yang berasal dari bagdad, Mesin, Arab dan Parsi atau Iran.
Sesudah belajar di negeri Pasai Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang ke jawa. Raden paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal sebagai Sunan Giri.
Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di daerah Lasem, Rembang, Tuban dan daerah Sempadan Surabaya.

Berdakwah
Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak timbulah suara yang merdu di telinga penduduk setempat.
Lebih-lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga apabila beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat bagi pendengarnya.
Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarnya. Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran agama Islam kepada mereka.
Tembang-tembang yang  diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam. Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan.
Murid-murid Raden Makdum Ibrahim ini sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara, Surabaya maupun Madura. Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang.

Karya Satra
Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya sastra yang sangat hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama. Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
Suluk berasal dari bahasa Arab “Salakattariiqa” artinya menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat. Ilmunya sering disebut Ilmu Suluk. Ajaran yang biasanya disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut wirid.

Kuburnya ada dua
Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal dunia pada saat berdakwah di Pulau Bawean.
Berita segera disebarkan ke seluruh tanah jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir.
Murid-murid yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan beliau di Pulau Bawean. Tetapi murid yang berasal dari Madura dan Surabaya menginginkan jenasah beliau dimakamkan di dekat ayahnya yaitu Sunan Ampel di Surabaya. Dalam hal memberikan kain kafan pembungkus jenasah mereka pun tak mau kalah. Jenasah yang sudah dibungkus dengan kain kafan milik orang bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.
Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban. Lalu mengangkut jenasah Sunan Bonang kedalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakannya tergesa-gesa kain kafan jenasah tertinggal satu.
Kapal layar segera bergerak ke arah Surabaya, tetapi ketika berada diperairan Tuban tiba-tiba kapal yang dipergunakan tidak bisa bergerak akhirnya jenasah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu sebelah barat Mesjid Jami’ Tuban.
Sementara kain kafannya yang ditinggal di Bawean ternyata juga ada jenasahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.
Dengan demikian ada dua jenasah Sunan Bonang, inilah karomah atau kelebihan yang diberikan Allah kepada beliau. Dengan demikian tak ada permusuhan diantara murid-muridnya.
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M. Makam yang dianggap asli adalah yang berada dikota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak yang diziarahi orang dari segala penjuru tanah air.

Kisah Peminum Khamr dan Pezina yang Ternyata Wali


Dikisahkan bahwa suatu malam Sultan Murod Ar-Rabi` mengalami kegundahan yang sangat, dan dia tdk mengetahui sebabnya.

Maka  Sang Sultan memanggil kepala penjaga/sipir dan memberitahukan ttg keadaannya yg sedang gundah,
Dan memang merupakan kebiasaan Sultan bahwa dia sering memeriksa keadaan masyarakat/rakyatnya secara sembunyi-sembunyi.
Maka Sultan berkata kpd Kepala Sipir : Mari kita keluar, jalan-jalan di antara penduduk (guna memeriksa dan memantau keadaan mereka).

Mereka pun berjalan hingga sampailah di sebuah penghujung desa, dan Sultan melihat seorang pria tergeletak di atas tanah.
Sultan menggerak-gerakknnya (utk memeriksa) dan ternyata pria tsb telah tewas.

Namun anehnya orang-orang yang melintasi dan berlalu lalang di sekitarnya tdk memperdulikannya.

Maka Sultan pun memanggil mereka, tapi mereka tdk mengetahui Sang Sultan,
Mereka berseru : Ada apa?
Sultan : Kenapa pria ini tewas dan tdk seorangpun yang membawanya? Siapa dia? Dan diman keluarganya?

Mereka berujar : Ini orang zindiq, suka minum khomar, pezina.

Sultan menimpali : Namun bukankah dia dari golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam?
Ayo bawa dia ke rumah keluarganya.

Maka mereka pun membawanya.

Ketika sampai di rumah, istrinya pun melhatnya dan langsung menangis.
Dan orang-orangpun mulai beranjak pergi, kecuali Sang Sultan dan Kepala Sipir.

Di tengah tangisan si wanita (istri si mayit), dia berseru kepada Sultan (namun wanita tsb tdk mengetahuinya) : Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah, aku bersaksi bahwa engkau sungguh wali Allah.

Maka terheranlah Sultan Murod dgn ucapan wanita tsb, dan berkata : Bagaimana mungkin aku termasuk wali Allah sementara orang-orang berkata buruk thd si mayyit, hingga mereka enggan mengurusi mayatnya.
(Pen, Sultan merasa heran, bagaimana mungkin seorang zindiq ditolong oleh wali Allah)

Wanita pun menjawab : Aku sudah duga hal itu,

Sungguh suamiku setiap malam pergi ke penjual arak/khomar lantas  membeli seberapa banyak yang dia bisa beli, kemudian membawanya ke rumah kami dan menumpahkan seluruh khomar ke toilet, dan dia (suami) berkata : Semoga aku bisa meringankan keburukan khomar dari kaum muslimin.

Suamiku juga selalu pergi kepada para zaniah/pelacur dan memberinya uang, dan berkata : malam ini kau ku bayar dan jangan kau buka pintu rumahmu (utk melacur) hingga pagi,

Kemudian suamiku kembali ke rumah dan berujar : Alhamdu lillah, semoga dgn itu aku bisa meringankan keburukannya ( pelacur) dari pemuda-pemuda muslim malam ini.

Namun sementara orang-orang menyaksikan dan mengetahui bahwa suamiku membeli khomar, dan masuk ke rumah pelacur,
Dan lantas mereka membicarakan suamiku dgn keburukan.

Pernah suatu hari aku berkata pada suamiku : Sungguh jika seandainya engkau mati, maka tdk akan ada orang yang akan memandikanmu, menyolatkanmu, dan menguburkanmu.

Suamikupun tersenyum dan menjawab : Jangan khawatir Sayangku… Sultan/Pemimpin kaum muslimin lah yang akan menyolatkanku beserta para ulama dan pembesar-pembesar negeri lainnya.

(Setelah mendengarnya) Sultan pun menangis lantas berkata : Suamimu benar,
Demi Allah aku adalah Sultan Murod Ar-Robi`,
Dan besok kami akan memandikan suamimu, menyolatkannya dan menguburkannya.

Dan diantara yang menyaksikan jenazahnya adalah Sultan Murod, para ulama, para masyayikh dan seluruh penduduk kota.

Maha Suci Allah, kita hanya bisa menilai orang dgn hanya melihat penampilan dan kulit luarnya dan kita pula hanya mendengar omongan orang.

Maka sendainya jika kita mampu bijak, kita akan memandang dan menilai orang dari kebersihan hatinya,
Maka niscaya lisan kita akan kelu membisu dari menceritakan keburukan orang lain..

KISAH DATU SANGGUL


KISAH DATU SANGGUL


Selalu Shalat Jum'at di Makkah
Dia mempunyai banyak kelebihan. Selalu shalat Jum'at di Makkah, dan menjadi murid Nabi Khidhir

Syeikh Abdussamad sering membagi daging binatang rusa dan kijang kepada penduduk dusun Muning, Kalimantan Selatan, tempat tinggalnya. Daging itu diperoleh dengan cara menyumpit binatang tersebut yang lewat di bawah pohon tempat dia duduk ber-juntai setiap hari. Namun kebiasaan ter-sebut tidak dilakukan pada hari Jum'at, karena dia pergi ke Makkah untuk melakukan shalat Jum'at.

Pekerjaan menghadang dan mengintip binatang itu disebut menyanggul yang berasal dari kata sanggul. Inilah asal mula Syaikh Abdussamad diberi gelar Datu Sanggul, atau Datuk Sanggul.

Datu Sanggul, seperti dikutip dari Riwayat Datu Sanggul, saduran M. Zaini A.D., padasuatu hari diminta Nabi Khidhir untuk mengantar Datu Daha ke Makkah. Datu Daha ingin shalat di sana. Datu Daha adalah anak angkat Nabi Khidhir setelah dia mengalami peristiwa yang luar biasa. Datu Sanggul menyanggupi permintaan itu, dengan syarat Datu Daha harus memegang dirinya erat-erat dengan mata tertutup sampai ada perintah membukanya.

Demikianlah, beberapa saat kemudian Datu Daha diizinkan membuka mata dan ternyata sudah tiba di Makkah. Mereka lalu ke masjid dan menjalankan shalat Jum'at.
Datu Daha kemudian minta kesediaan Datu Sanggul untuk mengantarkan lagi ke Makkah tapi kali itu untuk naik haji. Menanggapi permintaan itu Datu Sanggul minta agar Daha menunggu hari Jum'at. Setelah itu dla lenyap dari depan mata Daha.

Diceburkan ke Laut
Datu Daha adalah orang yang pernah bertemu Nabi Khidhir ketlka dia dalam kondisi yang sangat letih setelah diceburkan oleh kapten kapal karena kapal layar yang mereka tumpangi menuju Tanah Suci tiba-tiba berhenti di tengah laut tanpa sebab yang jelas. Untuk mencari kejelasan itu, dengan bantuan paranormal, Daha diceburkan ke dalam laut. "Si Fulan ini harus tinggal di tengah laut," kata si paranormal kepada kapten kapal setelah menghitung-hitung bayangan ghaib.

Begitu tubuh Daha tercebur ke laut, kapal itu pun bergerak melaju seperti semula dan meninggalkan Daha di tengah laut. Setelah 30 jam terombang-ambing di laut, akhirnya Daha terdampar di pantai. Ketika hampir pingsan, dia berdoa kepada Allah mohon keselamatan.
Kemudian dia berjalan menelusuri pantai hingga kelelahan dan jatuh pingsan.

Ketika siuman, dia melihat banyak makam sejauh mata memandang da¬lam keadaan rapi. Namun dia tidak me¬lihat bangunan rumah. "Pasti kuburan ini ada yang mengurus," pikirnya. "Namun, siapa?"
Karena kelelahan, dia terduduk sambil menoieh kiri-kanan, hingga tampak olehnya sebuah gubuk. Dengan tertatih-tatih dia datangi gubuk itu dan di-dapatinya seorang lelaki tua sendirian di dalamnya.
"Assalamu'alaikum," ujarnya.
Kemudian terjadilah dialog di antara keduanya.

Singkat kata, orang tua itu adalah Nabi Khidhir, yang mengaku sebagai pengurus pemakaman tersebut, yaitu ma¬kam orang-orang yang mati tenggelam di laut, seperti yang dialami Datu Daha. Jawaban itu diberikan setelah Daha menceritakan pengalamannya sendiri.
Mengetahui bahwa orang tua itu adalah Nabi Khidhir, Daha menyatakan keinginannya untuk pergi haji.

"Kalau Ananda ingin menunaikan ibadah haji, besok aku ikutkan kepada Syaikh Abdussamad. Tiap hari Jum'at dia singgah kemari sebelum ke Makkah," jawab Nabi Khidhir.
Begitulah, Datu Daha akhirnya ber¬temu Datu Sanggul dan dibawa keMakkah.

Berbulan-bulan kemudian, Datu Daha bertemu para penumpang kapal layar yang ditumpangi dulu. Mereka heran mengetahui Daha telah tiba di Makkah lebih dulu daripada mereka. "Bukankah Anda dulu dilempar ke laut, kok bisa duluan sampai di Makkah? kata salah seorang di antara mereka, keheranan.
"Itu semua kehendak Allah," jawab Datu Daha. Namun dia tidak menceritakan pertemuannya dengan Nabi Khidhir. Dalam keheranan itu, mereka akhirnya berkesimpulan bahwa kemungkinan Datu Daha adalah wali, bukan orang sembarangan.

Ketika ibadah haji selesai, Datu Daha pun diantar pulang oleh Datu Sanggul dengan cara yang sama. Namun dia di-turunkan di ujung kampung Daha, Bor¬neo, tempat asal Datu Daha. "Dari sini Anda jalan ke rumah, supaya orang kam¬pung melihat Anda sudah kembali dari Tanah Suci," pesan Datu Sanggul.
Begitulah, dalam sekejap mata, Datu Daha telah melihat kembali kampung-nya dan Datu Sanggul lenyap dari depannya.

Hari itu orang-orang kampung Daha terheran-heran melihat Datu Daha telah kembali. Mereka bertanya-tanya, tapi tidak dijawab oleh Daha. "Aku pulang atas kekuasaan, kodrat, dan iradat Allah. Aku tak kuasa menjelaskannya," kata Datu Daha.

Untuk mengetahui jawaban pertanyaan itu, orang-orang kampung menunggu kembalinya para jamaah lainnya sesama penumpang kapal layar. Namun ternyata mereka juga menyatakan keheranannya.
Mereka menceritakan bahwa Datu Daha dibuang ke laut karena ada sesuatu yang aneh ketika kapal tiba-tiba terhenti di tengah laut. Namun ketika sampai di Jeddah, mereka heran meli¬hat Daha juga sudah ada di sana de¬ngan selamat. "Kami terkejut, apa ini benar Datu Daha, atau kami salah lihat," tutur mereka.

Begitu juga ketika ibadah haji sele¬sai. Pada hari Jum'at sorenya dia sudah tidak ada lagi di Makkah, padahal menurut pengakuannya dia tiba pada hari Jum'at sebelum shalat Jum'at.
Cerita itu membuat warga kampung percaya bahwa Datu Daha memang naik haji dan dia adalah wali yang patut dihormati.

Dalam Balutan Asap Putih
Datu Sanggul, atau Syaikh Abdus-samad, atau Syaikh Ahmad Sirajul Huda, berasal dari Palembang. Dia berguru kepada Datu Suban, seorang ulama besar yang ditemuinya dalam mimpi, yang tinggal di Kalimantan Selatan.

Setelah mendapat restu dari ibunya, dia berlayar ke Kalimantan melalui selat Bangka Belitong dan kota Banjarmasin hingga tiba di Kampung Muning, Pantai Munggutayuh Tiwadak Gumpa Rantau Tapin, Kalimantan Selatan, padatahun 1750 M.

Singkat cerita, Datu Sanggul menjadi murid kesayangan Datu Suban dan diberi sebuah kitab pusaka yang berbentuk segi delapan. Rupanya ketika' kitab itu diserahkan, itulah akhir hayat Datu Suban, karena tak lama kemudian dia wafat dalam balutan asap putih yang mengepul ke udara ketika tengah berjalan meninggalkan tempat upacara penyerahan kitab tersebut.

Setelah mengamalkan ilmu hakikat dan ilmu laduni dari gurunya itu, Datu Sanggul diberi kelebihan oleh Allah, seperti menceburkan diri ke air sungai dan berwudhu tapi badannya tidak basah kecuali yang wajib wudhu. Tiap hari Jum'at bersembahyang Jum'at di Mas-jidil Haram, Makkah.
Dia juga berteman dengan Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari sejak tahun 1760, yang bertemu setiap shalat Jum'at di Makkah.

Syaikh Arsyad ingin mempelajari kitab pusaka Datu Suban yang bersegi delapan. Namun Datu Sanggul memin-jamkan hanya sebelah sehingga kitab itu berbetuk rencong dan disebut kitab Barencong, dengan catatan: bila ingin melanjutkan kajian dalam kitab itu, Al-Banjari harus turun ke tanah Jawi dan menemuinya di Kampung Muning sambil membawa kain putih seukuran lima helai kain sarung.

Ternyata ketika tiba saatnya untuk mempelajari kitab itu, Syaikh Arsyad Banjari tidak berhasil menemui Datu Sanggul di Kampung Muning, karena ia sudah wafat.
Teringat pada pesan agar memba¬wa kain putih berukuran lima kain sarung Syaikh Arsyad pun menduga bah¬wa ketika itu agaknya Datu Sanggul sudah mendapat firasat dari Allah akan meninggal bila belahan kitab Baren. cong itu diserahkan.

Kisah Imam Al-Ghazali Mimpi Bertemu Seorang Kakek Dengan Baju Serba Putih.


Suatu hari Imam Al-Ghazali mimpi, di dalam mimpi itu beliau bertemu seorang kakek dengan baju serba putih. dan masih di dalam mimpinya itu si kakek bertanya kepada Imam Al-Ghazali.
Pertanyaan'nya kira-kira begini :

" Ya Imam Al-Ghazali, apa gerangan sehingga engaku di pertemukan dengan Tuhan'Mu ???"...

lalu Imam Al-Ghazali menjawab " karena saya rajin shalat, menunaikan zakat, berbuat baik, dan menghindari dosa", lantas si kakek berkata " jawaban anda salah semua" ..lalu dengan heran Imam Al-Ghazali kembali bertanya " lalu amalan apa yg membuat saya dipertemukan dengan Tuhan'ku ???"..si kakek menjawab " suatu hari, ketika kamu menulis.

 tiba-tiba ada se-ekor lalat yg hinggap di penamu ( alat tulis yg terbuat dari bulu dengan tinta cumi yang agak bau amis sehingga lalat suka), dan kamu membiarkan lalat itu hinggap dan minum tetesan tinta di pena itu dan dalam hati kamu bilang "kasihan ini lalat, mungkin kehausan" lalu setelah lalat itu puas meminum tinta, kamu pun melanjutkan menulis"..

Dari cerita diatas kesimpulan'nya adalah rasa kasih Imam Al-Ghazali kepada lalat yg kehausan tidak berdasar kepada apa yg akan beliau terima (pahala yg didapat), tetapi Kasih yg Ikhlas tanpa mengharap apapun.

Allah Maha Pengasih dan manusia punya rasa kasih.

Tujuh Wali dari Tanah Bugis


Tujuh Wali dari Tanah Bugis

Ini ada sedikit info mengenai Wali Pitue penyebar agama islam dari Masyarakat Sulawesi Selatan Siapakah dia ?

1)Syekh Yusuf (Toanta Salamaka),
2) Petta Lasinrang (Petta Lolo),
3). Arung Palakka (Petta to malampe'e gemmena),
4) KH. Harun,
5) Pettabarang,
6) Imam Lapeo,
7) Dt. Sangkala

Syekh Yusuf (Toanta Salamaka) Seorang Penyebar agama islam dari Tanah Mekkah sampai Banten, Petta Lasinrang Seorang Raja dari Tanah Pinrang yang arif nan bijak sana dan gencar menyebarkan agama islam. yang terpenting Beliau Pemberani, Arung Palakka.KH. Harun : Beliau berasal dari Kerajaan Tallo,Petta Barang atau Petta To Risappae konon beliau mallajang diatas kudanya dan penunggu kudanya hingga sekarang masih ada. beliau adalah keturunan raja Barru yang kuat akan agama, Imam Lapeo : seorang imam di Desa Lapeo yang sederhana dan menyebarkan agama Islam sampai ketanah Bugis. sering memperlihatkan mukjisat dari Sang Kuasa, Dt. Sangkala : Hingga saat ini belum ada info detail tentangnya. Merekalah ke tujuh wali yang diyakini oleh Masyarakat di Tana Bugis .

Selain itu terdapat beberapa wali lagi yang di yakini oleh masyarakat Indonesia yakni Wali songo, dan Wali Pitu yang berada di Bali yakni 1) Mas Sepuh Raden Raden Amangkuningrat di Kabupaten Badung), 2)Chabib Umar Bin Maulana Yusuf Al Magribi di Tabanan, 3) Chabib Ali Bin abu Bakar Bin Umar Bin Abu Bakar Al Khamid di Klungkung, 4) Chabib Ali Zaebal Abidin Al Idrus di Karangasem, 5) Syech Maulana Yusuf Al Baghdi Al Magribi di Karangasem, 6) The Kwan Lie di Buleleng, dan 7) Chabib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih di Jembrana.

Seorang Raja Bone yang bisa membebaskan Masyarakat Bone dari penindasan kerajaan Gowa dan beliau di Juluki Sang Pembebas dengan gelar Pahlawan Kemanusiaan.

Mungkin menjadi pertanyaan, bahwa apakah masyarakat Tanah Bugis telah memahaminya ? kalaupun belum, mungkin di sebabkan karena kurangnya publikasi akan wali pitue selama ini ataukan memang mereka baru tahu kalau memang kebudayaan kita juga memiliki Wali Pitue ?